Gombal sama dengan bohong, sama dengan omong kosong.
bersambung.... :)
Sabtu, 03 Januari 2009
Senin, 22 Desember 2008
Sekolah dan Kehidupan
Sekolah dalam definisi sederhana, antara lain, dapat disebut sebuah lembaga atau tempat belajar dan mengajar serta tempat menerima dan memberi pelajaran. Di sekolah seseorang dapat menimba ilmu dengan segala jurusannya: jurusan dagang, teknik, guru, pertanian, agama, dst. Di sekolah formal, setelah seseorang mendapat pelajaran, ia akan mengikuti ujian. Hasil ujian itulah yang menentukan apakah dia pantas lulus atau tidak. Nilai dari ujian itulah yang menetapkan dia pantas naik kelas atau tidak. Singkatnya, di sekolah seseorang mendapat pelajaran --> mengikuti ujian -->lulus/gagal.
Di sekolah, kesempatan seseorang untuk lulus lebih dari 90%, karena materi untuk menjawab soal-soal ujian sudah diberikan terlebih dahulu pada saat seseorang belajar. Jika dia belajar dengan sungguh-sungguh dan menguasai seluruh pelajaran yang diberikan oleh pengajar, sebagian besar--atau bahkan semua--soal akan dapat dilahapdengan tuntas, sehingga lulus atau naik kelas dengan nilai yang membanggakan bukanlah sesuatu yang mustahil untuk dicapai.
Sementara di dalam konteks kehidupan, untuk mencapai kesuksesan atau kemenangan, seseorang akan mengalami tahapan yang berbeda dengan tahapan yang dilalui di sekolah. Di dalam kehidupan, tahapan pertama yang dilalui seseorang adalah mendapat ujian. Ujian--atau dalam bahasa agama juga disebut dengan cobaan--yang diterima seseorang di dalam hidupnya bisa berupa sandungan, tantangan, atau kegagalan demi kegagalan. Seseorang yang dapat melalui ujian dengan baik, ia akan dapat melalui pelajaran: yaitu mengambil pelajaran dari ujian yang telah ia alami. Mengambil pelajaran dari ujian demi ujian yang dia hadapi, dapat menjadi modal besar bagi dia untuk meraih sebuh kesuksesan, karena setidaknya dia tidak akan mengulangi kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan sebelumnya, atau bahkan dia sudah dapat memprediksi dan mengantisipasi kesalahan-kesalahan yang dimungkinkan terjadi. Peluang besar untuk sukses hanya dimiliki oleh orang-orang yang dapat belajar dari ujian yang dia hadapi dalam kehidupannya. Sebab orang yang mau mengambil pelajaran dari kesalahan-kesalahan yang dilakukan dalam hidupnya, tidak akan mudah menyerah pada kehidupan.
Oleh karena itu, Eka Rasa Defaira, Direktur P.T. Pena Pundi Aksara, mengungkapkan dalam sebuah momen bahwa kemenangan menjadi sangat berharga dalam hidup bukan karena seseorang tidak pernah gagal, melainkan bagaimana dia dapat bangkit, bergerak, dan berjuang setiap kali menemui kegagalan.
So, meraih kesuksesan di dalam kehidupan tidak semudah meraih kesuksesan di bangku sekolah. Karena di bangku sekolah, seseorang sudah dicekoki seluruh materi yang kelak menjadi jawaban atas seluruh soal yang akan diberikan di dalam ujian. Sedangkan dalam kehidupan, seseorang harus mencari sendiri pelajaran atau jawaban atas ujian yang dia hadapi.
Kerapkali realitas kehidupan yang dihadapi seseorang tidak sesuai dengan keinginan yang terpatri di hatinya. Tak ubahnya, seperti angin yang sering berembus ke arah yang tidak diinginkan oleh kapal yang hendak berlayar. Itulah pesan seorang pujangga Arab mengingatkan kita tentang realitas kehidupan ini. Mâ kullu mâ yatamannal-mar`u yudrikuhu, ta`tir-rîhu bi-mâ lâ tasytahi as-sufun.
Selamat belajar atas setiap ujian yang dihadiahkan kepada kita, untuk menjadi bekal kita meraih sebuah kesuksesan yang kita impikan.
Di sekolah, kesempatan seseorang untuk lulus lebih dari 90%, karena materi untuk menjawab soal-soal ujian sudah diberikan terlebih dahulu pada saat seseorang belajar. Jika dia belajar dengan sungguh-sungguh dan menguasai seluruh pelajaran yang diberikan oleh pengajar, sebagian besar--atau bahkan semua--soal akan dapat dilahapdengan tuntas, sehingga lulus atau naik kelas dengan nilai yang membanggakan bukanlah sesuatu yang mustahil untuk dicapai.Sementara di dalam konteks kehidupan, untuk mencapai kesuksesan atau kemenangan, seseorang akan mengalami tahapan yang berbeda dengan tahapan yang dilalui di sekolah. Di dalam kehidupan, tahapan pertama yang dilalui seseorang adalah mendapat ujian. Ujian--atau dalam bahasa agama juga disebut dengan cobaan--yang diterima seseorang di dalam hidupnya bisa berupa sandungan, tantangan, atau kegagalan demi kegagalan. Seseorang yang dapat melalui ujian dengan baik, ia akan dapat melalui pelajaran: yaitu mengambil pelajaran dari ujian yang telah ia alami. Mengambil pelajaran dari ujian demi ujian yang dia hadapi, dapat menjadi modal besar bagi dia untuk meraih sebuh kesuksesan, karena setidaknya dia tidak akan mengulangi kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan sebelumnya, atau bahkan dia sudah dapat memprediksi dan mengantisipasi kesalahan-kesalahan yang dimungkinkan terjadi. Peluang besar untuk sukses hanya dimiliki oleh orang-orang yang dapat belajar dari ujian yang dia hadapi dalam kehidupannya. Sebab orang yang mau mengambil pelajaran dari kesalahan-kesalahan yang dilakukan dalam hidupnya, tidak akan mudah menyerah pada kehidupan.
Oleh karena itu, Eka Rasa Defaira, Direktur P.T. Pena Pundi Aksara, mengungkapkan dalam sebuah momen bahwa kemenangan menjadi sangat berharga dalam hidup bukan karena seseorang tidak pernah gagal, melainkan bagaimana dia dapat bangkit, bergerak, dan berjuang setiap kali menemui kegagalan.
So, meraih kesuksesan di dalam kehidupan tidak semudah meraih kesuksesan di bangku sekolah. Karena di bangku sekolah, seseorang sudah dicekoki seluruh materi yang kelak menjadi jawaban atas seluruh soal yang akan diberikan di dalam ujian. Sedangkan dalam kehidupan, seseorang harus mencari sendiri pelajaran atau jawaban atas ujian yang dia hadapi.
Kerapkali realitas kehidupan yang dihadapi seseorang tidak sesuai dengan keinginan yang terpatri di hatinya. Tak ubahnya, seperti angin yang sering berembus ke arah yang tidak diinginkan oleh kapal yang hendak berlayar. Itulah pesan seorang pujangga Arab mengingatkan kita tentang realitas kehidupan ini. Mâ kullu mâ yatamannal-mar`u yudrikuhu, ta`tir-rîhu bi-mâ lâ tasytahi as-sufun.
Selamat belajar atas setiap ujian yang dihadiahkan kepada kita, untuk menjadi bekal kita meraih sebuah kesuksesan yang kita impikan.
Label:
Motivasi
Selasa, 09 Desember 2008
Korupsi Gak Sengaja
Kemarin (9/12) merupakan Hari Antikorupsi Sedunia. Saya sendiri belum pernah memiliki kasus dengan yang bernama korupsi. Setidaknya saya belum pernah terbukti melakukan korupsi. Pikir singkat saya, bagaimana saya bisa melakukan korupsi, wong kesempatan untuk berkorupsi tidak ada, kukakaka. Itu kalau dikaitkan dengan korupsi dalam skala besar, seperti mengoruspi uang miliyaran seperti banyak diberitakan di media massa, yang biasa dilakukan oleh orang-orang berdasi dan bergaji--sebut saja--puluhan atau ratusan juta.
Korupsi--yang dalam definisi sederhananya sebagai tindakan penyelewengan atau penyalahgunaan uang (dan sejenisnya) milik perusahaan (dsb) untuk keuntungan pribadi atau orang lain--tidak hanya berlaku dalam ranah partai besar, atau dalam konteks uang dan harta kekayaan saja.
Jika ditilik dari definisinya, korupsi yang berarti penyelewengan atau penyalahgunaan bisa juga berlaku dalam ranah waktu. Korupsi waktu berarti penyalahgunaan waktu. Dengan begitu, penggunaan waktu dinas (bekerja) untuk urusan pribadi dapat disebut tindakan korupsi.
Meskipun tindakan korupsi waktu tidak dapat menyeret pelakunya ke LP, pengadilan, dan sejenisnya, tindakan tersebut tetap masuk dalam kategori tindakan yang dapat merugikan perusahaan dan orang lain. Pastinya, ia merupakan tindakan yang tidak terpuji.
Dalam konteks mengorupsi waktu, seseorang--sebut saja seseorang itu adalah saya heheh --bisa saja tidak sadar bahwa dia telah melakukan tindak korupsi yang membawa dirinya telah melakukan tindakan dosa dan selanjutnya mengonsumsi harta yang tidak halal yang kelak menjadi darah-dagingnya.
Saya mencoba mengilustrasikan pengorupsian waktu dalam konteks perusahaan dengan mengalkulasikan gaji (dan sejenisnya) yang diberikan oleh perusahaan dan waktu (baca: jam kerja) yang harus dibayarkan oleh seorang karyawan kepada perusahaan. Sebut saja gaji yang diberikan oleh Perusahaan adalah Rp2.000.000 untuk jam kerja 8 jam. Agar tidak terjadi tindakan korupsi (dalam hal ini waktu), seorang karyawan harus bekerja untuk perusahaan selama 8 jam. Jika selama rentang waktu 8 jam, seorang karyawan melakukan hal-hal yang menguntungkan pribadi atau orang lain (bukan perusahaan), disadari atau tidak ia telah melakukan tindakan korupsi, karena ia telah melakukan penyalahgunaan waktu. Sesebentar apa pun, misalnya hanya satu menit, dia melakukan penyelewenangan waktu, ia telah melakukan tindakan korupsi.
Seorang yang melakukan korupsi satu menit saja selama satu hari kerja (8 jam) atau selama satu bulan kerja, ia telah merusak kualitas (kehalalalan) jam kerja yang lain selama satu bulan itu.
Jika ia telah melakukan korupsi waktu selama satu menit, berarti bayaran yang ia terima untuk satu menit menit tersebut sudah berubah dari halal menjadi haram. Agama tidak menolerir kuantitas perbuatan haram, sedikit atau banyak sama-sama haram (qalîluhu wa katsîruhu harâm). Sebut saja bayaran yang dia terima untuk satu menit sebesar 208 perak (hasil pembagian Rp2.000.000 yang dia terima selama satu bulan kerja. Misalnya, Rp2.000.000 [dibagi] 20 hari kerja [dibagi] 8 jam [dibagi] 60 menit = 208 perak).
Agama juga menyebutkan, jika uang haram bercampur dengan uang halal maka seluruhnya akan menjadi haram (idzâ ijtama'a al-halâlu wal-harâm gullibal-harâmu). Jika seorang karyawan menerima gaji Rp2.000.000 selama satu bulan, dengan komposisi uang haram sebesar 208 (karena telah mengorupsi waktu kerja selama satu menit) dan uang halal sebesar Rp1.999.792, maka uang yang 1.999.792 juga ikut haram karena bercampur dengan uang haram. Dengan begitu, gaji yang ia terima sebesar Rp2.000.000 adalah gaji haram. Na'ûdzubillah min tilka.
Jika ditilik dari definisinya, korupsi yang berarti penyelewengan atau penyalahgunaan bisa juga berlaku dalam ranah waktu. Korupsi waktu berarti penyalahgunaan waktu. Dengan begitu, penggunaan waktu dinas (bekerja) untuk urusan pribadi dapat disebut tindakan korupsi.
Meskipun tindakan korupsi waktu tidak dapat menyeret pelakunya ke LP, pengadilan, dan sejenisnya, tindakan tersebut tetap masuk dalam kategori tindakan yang dapat merugikan perusahaan dan orang lain. Pastinya, ia merupakan tindakan yang tidak terpuji.
Dalam konteks mengorupsi waktu, seseorang--sebut saja seseorang itu adalah saya heheh --bisa saja tidak sadar bahwa dia telah melakukan tindak korupsi yang membawa dirinya telah melakukan tindakan dosa dan selanjutnya mengonsumsi harta yang tidak halal yang kelak menjadi darah-dagingnya.
Seorang yang melakukan korupsi satu menit saja selama satu hari kerja (8 jam) atau selama satu bulan kerja, ia telah merusak kualitas (kehalalalan) jam kerja yang lain selama satu bulan itu.
Jika ia telah melakukan korupsi waktu selama satu menit, berarti bayaran yang ia terima untuk satu menit menit tersebut sudah berubah dari halal menjadi haram. Agama tidak menolerir kuantitas perbuatan haram, sedikit atau banyak sama-sama haram (qalîluhu wa katsîruhu harâm). Sebut saja bayaran yang dia terima untuk satu menit sebesar 208 perak (hasil pembagian Rp2.000.000 yang dia terima selama satu bulan kerja. Misalnya, Rp2.000.000 [dibagi] 20 hari kerja [dibagi] 8 jam [dibagi] 60 menit = 208 perak).
Agama juga menyebutkan, jika uang haram bercampur dengan uang halal maka seluruhnya akan menjadi haram (idzâ ijtama'a al-halâlu wal-harâm gullibal-harâmu). Jika seorang karyawan menerima gaji Rp2.000.000 selama satu bulan, dengan komposisi uang haram sebesar 208 (karena telah mengorupsi waktu kerja selama satu menit) dan uang halal sebesar Rp1.999.792, maka uang yang 1.999.792 juga ikut haram karena bercampur dengan uang haram. Dengan begitu, gaji yang ia terima sebesar Rp2.000.000 adalah gaji haram. Na'ûdzubillah min tilka.
Label:
Gado2
Kamis, 20 November 2008
Jejak Langkah Menuju Keberhasilan
Banyak jalan untuk meraih keberhasilan. Setiap orang memiliki caranya sendiri untuk meraih keberhasilan yang diimpikannya. Bisa jadi, setiap orang memiliki cara yang berbeda dengan cara yang digunakan oleh orang lain. Bahkan, tidak menutup kemungkinan, seseorang sudah menggunakan banyak cara sebelum menemukan cara yang tepat untuk meraih keberhasilan. Bisa dengan belajar dari kesalahan-kesalahan (pengalaman) sendiri atau belajar dari pengalaman orang lain yang telah suskes menggenggam keberhasilan. Setidaknya, menjadikan pengalaman orang lain itu sebagai bekal untuk menguak jalan menuju keberhasilan. Sebab, ada sebuah pameo mengungkapkan: experience is the best teacher 'pengalaman adalah guru yang terbaik'.
Salah satu cara untuk meraih keberhasilan adalah cara yang digunakan oleh Pak Ardy, seorang profesional yang telah bergelut di dunia bisnis selama 20 tahun. Menurut Pak Ardy, untuk dapat meraih keberhasilan ada beberapa langkah yang harus ditempuh. Berikut ini beberapa pointer yang sempat saya catat dari materi yang disampaikan oleh Pak Ardy pada acara "berbagi pengalaman" dengan teman-teman Tim Produksi Pena, pada Rabu, 19/11 kemarin (Kalo salah dikoreksi ya Pak Ardy, he3.)
Pertama, harus memiliki modal.
Orang yang ingin meraih kesuksesan, harus memiliki empat (4) modal berikut ini.
1. Paradigma.
2. Pola pikir (positif).
3. Motivasi.
4. Orientasi kerja.
Kedua, menyadari sesuatu yang tidak terelakkan. Seorang yang bergelut di dunia bisnis, harus menyadari dua hal yang tidak dapat ditawar sehingga kita harus dapat menyikapinya dengan baik dan benar. Dua hal yang tidak terlakkan itu:
(1) Waktu. Waktu merupakan sesuatu yang tidak dapat ditawar. Ia akan terus bergulir, dan kita—sebagai manusia—tidak dapat menghentikan lajunya. Kita harus dapat "mengendalikan" waktu dengan baik. Sebuah pepatah Arab mengatakan, al-waqtu kassaifi, in lam taqtha`hu, qatha'aka 'waktu bagaikan pedang, jika kamu tidak menebasnya, ia akan menebasmu'. Seseorang yang ingin sukses harus benar-benar dapat mengelola waktu dengan baik karena seseorang memiliki batas usia dan tingkat produktivitas.
(2). Persaingan. Semakin hari semakin banyak lulusan luar negeri yang setiap saat dapat menggeser eksistensi kita jika kita tidak dapat menyesuaikan dengan perkembangan dan tuntutan zaman. Di samping itu, peluang seamakin luas. Karena itu, untuk menghadapi persaingan ini dengan sehat, kita harus agresif dan berkoneksi.
Ketiga, membuka mata atas fakta yang terlihat saat ini.
Fakta yang terlihat sekarang adalah hal penting yang tidak dapat diabaikan salah satunya. Bahkan, jika salah satu dari kedua hal penting itu gagal, besar kemungkinan akan mengancam salah satu hal penting yang lain. Dua hal penting itu adalah (1) tuntutan pekerjaan dan (2) tuntutan hidup.
Dalam menghadapi tuntutan pekerjaan, kita harus bekerja dengan efektif, memiliki multi skill, inovatif, inisiatif, dan selalu mengaupdate teknologi.
Sementara dalam menghadapi tuntutan hidup, kita harus menyadari bahwa biaya hidup tinggi dan serba penting. Tapi, tidak hanya cukup disadari, tapi juga harus diantisipasi:)
Keempat, memiliki paradigma yang benar, memiliki rencana yang tepat, menetukan pengetahuan dan ilmu yang harus dikuasai, dan mengetahui cara bertahan.
Paradgima yang benar dalam konteks pekerjaan adalah harus membedakan antara profesi dan pekerja sehingga kita dapat menentukan dan memilih kita mau menjadi profesional ataukah menjadi pekerja saja. Karena terdapat perbedaan yang mencolok antara profesional dan pekerja. Pekerja itu (1) fokus pada kegiatan, (2) pasrah/menolak perubahan, (3) berorientasi pada waktu dan upah, (4) mengikuti apa yang sudah ditetapkan, (5) berorientasi pada jangka pendek, dan (6) ada batas masa berlakunya.
Sementara profesional, (1) fokus pada keahlian, (2) mengantisipasi perubahan, (3) berorientasi pada hasil, (4) mengasah kreativitas, (5) berorientasi pada jangka panjang, dan (6) selalu dicari dan dibutuhkan.
Setelah memiliki paradigma yang benar, kita harus memiliki rencana yang tepat, yaitu dengan cara menentukan langkah berikut ini.
1. Membuat dan memiliki visi pribadi. Visi pribadi yang kita buat harus konkret dan solid, yang bisa dibuat dengan cara menyendiri sambil merenung, mendengarkan suara hati, menggunakan alat bantu yang bisa menimbulkan inspirasi, dan berdoa.
2. Membuat target. Target yang kita susun harus diterjemahkan ke dalam kegiatan nyata, yakni dengan cara melakukan tindakan nyata, lalu mengevaluasi kemajuan yang telah kita lakukan.
3. Mengelola waktu dengan baik. Ingat: al-waktu kassaifi, in lam taqtha`hu, qatha'aka 'waktu bagaikan pedang, jika kamu tidak menebasnya, ia akan menebasmu'.
Jika kita sudah memiliki rencana yang tepat, kita harus mempelajari ilmu dan pengetahuan berikut ini.
1. Tingkatkan keahlian teknis dan nonteknis.
2. Keahlian memimpin.
3. Keahlian berkomunikasi.
4. Keahlian mengambil keputusan dan membuat kebijakan yang benar.
5. Keahlian berinteraksi dengan orang lain.
Ketika kita sudah menguasai pengetahuan yang harus kita miliki, kita harus menguasai cara bertahan. Pertahanan yang kukuh dapat dilakukan dengan menguasai hal berikut ini.
1. Berpikir positif.
2. Mengubah kegagalan menjadi batu loncatan untuk berhasil.
3. Mengatasi stres.
4. Mengambil risiko.
Teori tidak akan berarti apa-apa jika kita tidak mewujudkannya dalam bentuk aksi. Mari kita melangkah mulai dari sekarang sambil mengingat pesan Pak Ardy: "Setiap orang yang memiliki sudut pandang, motivasi, dan cara yang positif akan lebih mudah dan ringan dalam menghadapi kehidupan." Bismillah!
Salah satu cara untuk meraih keberhasilan adalah cara yang digunakan oleh Pak Ardy, seorang profesional yang telah bergelut di dunia bisnis selama 20 tahun. Menurut Pak Ardy, untuk dapat meraih keberhasilan ada beberapa langkah yang harus ditempuh. Berikut ini beberapa pointer yang sempat saya catat dari materi yang disampaikan oleh Pak Ardy pada acara "berbagi pengalaman" dengan teman-teman Tim Produksi Pena, pada Rabu, 19/11 kemarin (Kalo salah dikoreksi ya Pak Ardy, he3.)
Pertama, harus memiliki modal.
Orang yang ingin meraih kesuksesan, harus memiliki empat (4) modal berikut ini.
1. Paradigma.
2. Pola pikir (positif).
3. Motivasi.
4. Orientasi kerja.
Kedua, menyadari sesuatu yang tidak terelakkan. Seorang yang bergelut di dunia bisnis, harus menyadari dua hal yang tidak dapat ditawar sehingga kita harus dapat menyikapinya dengan baik dan benar. Dua hal yang tidak terlakkan itu:
(1) Waktu. Waktu merupakan sesuatu yang tidak dapat ditawar. Ia akan terus bergulir, dan kita—sebagai manusia—tidak dapat menghentikan lajunya. Kita harus dapat "mengendalikan" waktu dengan baik. Sebuah pepatah Arab mengatakan, al-waqtu kassaifi, in lam taqtha`hu, qatha'aka 'waktu bagaikan pedang, jika kamu tidak menebasnya, ia akan menebasmu'. Seseorang yang ingin sukses harus benar-benar dapat mengelola waktu dengan baik karena seseorang memiliki batas usia dan tingkat produktivitas.
(2). Persaingan. Semakin hari semakin banyak lulusan luar negeri yang setiap saat dapat menggeser eksistensi kita jika kita tidak dapat menyesuaikan dengan perkembangan dan tuntutan zaman. Di samping itu, peluang seamakin luas. Karena itu, untuk menghadapi persaingan ini dengan sehat, kita harus agresif dan berkoneksi.
Ketiga, membuka mata atas fakta yang terlihat saat ini.
Fakta yang terlihat sekarang adalah hal penting yang tidak dapat diabaikan salah satunya. Bahkan, jika salah satu dari kedua hal penting itu gagal, besar kemungkinan akan mengancam salah satu hal penting yang lain. Dua hal penting itu adalah (1) tuntutan pekerjaan dan (2) tuntutan hidup.
Dalam menghadapi tuntutan pekerjaan, kita harus bekerja dengan efektif, memiliki multi skill, inovatif, inisiatif, dan selalu mengaupdate teknologi.
Sementara dalam menghadapi tuntutan hidup, kita harus menyadari bahwa biaya hidup tinggi dan serba penting. Tapi, tidak hanya cukup disadari, tapi juga harus diantisipasi:)
Keempat, memiliki paradigma yang benar, memiliki rencana yang tepat, menetukan pengetahuan dan ilmu yang harus dikuasai, dan mengetahui cara bertahan.
Paradgima yang benar dalam konteks pekerjaan adalah harus membedakan antara profesi dan pekerja sehingga kita dapat menentukan dan memilih kita mau menjadi profesional ataukah menjadi pekerja saja. Karena terdapat perbedaan yang mencolok antara profesional dan pekerja. Pekerja itu (1) fokus pada kegiatan, (2) pasrah/menolak perubahan, (3) berorientasi pada waktu dan upah, (4) mengikuti apa yang sudah ditetapkan, (5) berorientasi pada jangka pendek, dan (6) ada batas masa berlakunya.
Sementara profesional, (1) fokus pada keahlian, (2) mengantisipasi perubahan, (3) berorientasi pada hasil, (4) mengasah kreativitas, (5) berorientasi pada jangka panjang, dan (6) selalu dicari dan dibutuhkan.
Setelah memiliki paradigma yang benar, kita harus memiliki rencana yang tepat, yaitu dengan cara menentukan langkah berikut ini.
1. Membuat dan memiliki visi pribadi. Visi pribadi yang kita buat harus konkret dan solid, yang bisa dibuat dengan cara menyendiri sambil merenung, mendengarkan suara hati, menggunakan alat bantu yang bisa menimbulkan inspirasi, dan berdoa.
2. Membuat target. Target yang kita susun harus diterjemahkan ke dalam kegiatan nyata, yakni dengan cara melakukan tindakan nyata, lalu mengevaluasi kemajuan yang telah kita lakukan.
3. Mengelola waktu dengan baik. Ingat: al-waktu kassaifi, in lam taqtha`hu, qatha'aka 'waktu bagaikan pedang, jika kamu tidak menebasnya, ia akan menebasmu'.
Jika kita sudah memiliki rencana yang tepat, kita harus mempelajari ilmu dan pengetahuan berikut ini.
1. Tingkatkan keahlian teknis dan nonteknis.
2. Keahlian memimpin.
3. Keahlian berkomunikasi.
4. Keahlian mengambil keputusan dan membuat kebijakan yang benar.
5. Keahlian berinteraksi dengan orang lain.
Ketika kita sudah menguasai pengetahuan yang harus kita miliki, kita harus menguasai cara bertahan. Pertahanan yang kukuh dapat dilakukan dengan menguasai hal berikut ini.
1. Berpikir positif.
2. Mengubah kegagalan menjadi batu loncatan untuk berhasil.
3. Mengatasi stres.
4. Mengambil risiko.
Teori tidak akan berarti apa-apa jika kita tidak mewujudkannya dalam bentuk aksi. Mari kita melangkah mulai dari sekarang sambil mengingat pesan Pak Ardy: "Setiap orang yang memiliki sudut pandang, motivasi, dan cara yang positif akan lebih mudah dan ringan dalam menghadapi kehidupan." Bismillah!
Label:
Tips
Selasa, 18 November 2008
Give and Take
Ternyata, sudah banyak perkembangan pesat di lingkungan sekitar yang tidak mampu saya ikuti. Salah satunya, perubahan prinsip take and give ke prinsip give and take. Perubahan ini, bukan hanya sebatas pemindahan kata yang semula disebut terakhir (give) kemudian disebut pertama kali, menjadi give and take. Prinsip take and give cenderung membuat seseorang pasif dan menyesuaikan dengan lingkungan. Ia akan memberikan sesuatu sesuai dengan kadar yang telah ia terima dari lingkungannya. Tidak lebih. Disebut pasif, karena apa yang ia lakukan merupakan reaksi dari aksi yang dilakukan oleh orang lain.
Sementara prinsip give and take merupakan tindakan aktif yang berupaya memberi sesuatu kepada lingkungan tanpa memikirkan balasan yang akan diberikan oleh lingkungan. Meskipun mengharapkan balasan, setidaknya prinsip ini telah menggugah seseorang untuk memberi (apa pun), jika ia ingin menerima sesuatu yang setimpal. Pemberian yang diberikan berdasarkan inisiatif, sering mendapat balasan yang lebih banyak dari yang seharusnya.
Memberi yang saya maksud adalah memberi dalam pengertian yang seluas-luasnya. Bukan sekadar memberi dalam bentuk materi. Tetapi, masih dalam koridor memberi yang positif. Setidaknya, tidak merugikan orang lain. Bisa kontribusi ide, pemikiran, kritik konstruktif, gagasan, tenaga, dan sebagainya.
Tanpa mendapat balasan pun, ketika memberi orang yang memberi akan mendapatkan banyak hal positif. Orang yang memberi itu: lebih gembira (ada kepuasan batin karena sudah dapat membantu orang lain. Apalagi kalau pemberian yang ia berikan memang sangat diharapkan oleh orang lain), lebih mulia (tangan yang di atas lebih mulia daripada tangan yang di bawah), lebih kuat, lebih semangat, lebih kreatif, lebih tawakal, lebih berani, lebih percaya diri, lebih berwawasan, berpengalaman, lebih ceria, lebih segar, lebih tenang, dan lebih sukses. lebih... lebih... dan lebih-lebih yang lainnya. Hanya poin-poin itu yang disampaikan oleh Pak Ardiansyah, salah seorang advisor PT Pena Pundi Aksara tempat saya memberi :) saat ini, dalam training untuk divisi produksi pada Selasa kemarin. Lebih-lebih yang lain pasti masih berserakan. Sebut saja, orang yang memberi akan lebih sayang dan lebih mendapat rasa sayang. Rasulullah saw. membenarkan dan menganjurkan lebih yang terakhir ini melalui sabda beliau,
Tahâdau, tahabbû 'saling memberilah, niscaya kalian semakin saling menyayangi'. (HR Baihaqi)
Yuks, kita mencari lebih-lebih yang lain :)
Sementara prinsip give and take merupakan tindakan aktif yang berupaya memberi sesuatu kepada lingkungan tanpa memikirkan balasan yang akan diberikan oleh lingkungan. Meskipun mengharapkan balasan, setidaknya prinsip ini telah menggugah seseorang untuk memberi (apa pun), jika ia ingin menerima sesuatu yang setimpal. Pemberian yang diberikan berdasarkan inisiatif, sering mendapat balasan yang lebih banyak dari yang seharusnya.
Memberi yang saya maksud adalah memberi dalam pengertian yang seluas-luasnya. Bukan sekadar memberi dalam bentuk materi. Tetapi, masih dalam koridor memberi yang positif. Setidaknya, tidak merugikan orang lain. Bisa kontribusi ide, pemikiran, kritik konstruktif, gagasan, tenaga, dan sebagainya.
Tanpa mendapat balasan pun, ketika memberi orang yang memberi akan mendapatkan banyak hal positif. Orang yang memberi itu: lebih gembira (ada kepuasan batin karena sudah dapat membantu orang lain. Apalagi kalau pemberian yang ia berikan memang sangat diharapkan oleh orang lain), lebih mulia (tangan yang di atas lebih mulia daripada tangan yang di bawah), lebih kuat, lebih semangat, lebih kreatif, lebih tawakal, lebih berani, lebih percaya diri, lebih berwawasan, berpengalaman, lebih ceria, lebih segar, lebih tenang, dan lebih sukses. lebih... lebih... dan lebih-lebih yang lainnya. Hanya poin-poin itu yang disampaikan oleh Pak Ardiansyah, salah seorang advisor PT Pena Pundi Aksara tempat saya memberi :) saat ini, dalam training untuk divisi produksi pada Selasa kemarin. Lebih-lebih yang lain pasti masih berserakan. Sebut saja, orang yang memberi akan lebih sayang dan lebih mendapat rasa sayang. Rasulullah saw. membenarkan dan menganjurkan lebih yang terakhir ini melalui sabda beliau,
Tahâdau, tahabbû 'saling memberilah, niscaya kalian semakin saling menyayangi'. (HR Baihaqi)
Yuks, kita mencari lebih-lebih yang lain :)
Label:
Catatan Ringan
Jumat, 17 Oktober 2008
Pena Cuci Gudang
"Buku Pena bagu2 ya, tapi mahal, hehe," seloroh teman saya yg
menyatakan tertarik untuk memiliki buku2 Pena, tapi koceknya
terbatas.



Teman saya dan beberapa pembaca buku2 Pena yang memiliki
pengalaman yang sama dengan teman saya itu tak perlu khawatir lagi
karena Pena saat ini sedang banting harga buku dan Al-Qur`an gila2an. Pena
menjual produk2nya dengan diskon 45 hingga 70%.

Mumpung Pena lagi cuci gudang, Anda yang berminat untuk memborong
produk2 Pena, buruan datang, khawatir ga kebagian. Kesempatan ini
bisa jadi hanya datang sekali: tanggal 20 Oktober s.d. 5 November
2008; pukul 09.00 s.d. 17.00.

Anda yang ingin melihat katalog dan harga setelah diskon buku2 Pena lebih detail, sempatkan berkunjung ke http://katablogpena.wordpress.com/

menyatakan tertarik untuk memiliki buku2 Pena, tapi koceknya
terbatas.

Padahal, harga buku2 Pena sudah sesuai dengan kualitas produk yang
dijual, baik dari segi perwajahan, isi, pengetahuan yang
disajikan.
dijual, baik dari segi perwajahan, isi, pengetahuan yang
disajikan.

Mungkin ada beberapa fans Pena yang lain yang memiliki pengalaman
yang sama dengan teman saya itu.
yang sama dengan teman saya itu.

Teman saya dan beberapa pembaca buku2 Pena yang memiliki
pengalaman yang sama dengan teman saya itu tak perlu khawatir lagi
karena Pena saat ini sedang banting harga buku dan Al-Qur`an gila2an. Pena
menjual produk2nya dengan diskon 45 hingga 70%.

Mumpung Pena lagi cuci gudang, Anda yang berminat untuk memborong
produk2 Pena, buruan datang, khawatir ga kebagian. Kesempatan ini
bisa jadi hanya datang sekali: tanggal 20 Oktober s.d. 5 November
2008; pukul 09.00 s.d. 17.00.
Datang langsung ke gudang Penerbit Pena di Jl. Cempaka Putih
Tengah XVIII, no. 12 Cempaka Putih, Jakarta Pusat, 10510, Anda
dapat memborong buku2 keislaman bermutu, seperti Fiqih Sunnah, Candu Shalat,
Arabic Kamasutra, Ensiklopedia Doa dan Zikir, Keluar dari Kemelut
Hidup, Panduan Shalat Lengkap, Aku Mohon Petunjuk-Mu, Bukan Shalat Biasa, dan Tafsir
Qur`an Wanita.
Tengah XVIII, no. 12 Cempaka Putih, Jakarta Pusat, 10510, Anda
dapat memborong buku2 keislaman bermutu, seperti Fiqih Sunnah, Candu Shalat,
Arabic Kamasutra, Ensiklopedia Doa dan Zikir, Keluar dari Kemelut
Hidup, Panduan Shalat Lengkap, Aku Mohon Petunjuk-Mu, Bukan Shalat Biasa, dan Tafsir
Qur`an Wanita.

Anda yang ingin melihat katalog dan harga setelah diskon buku2 Pena lebih detail, sempatkan berkunjung ke http://katablogpena.wordpress.com/

Sampai jumpa di kantor Penerbit Pena! Menyesal kemudian tiada arti lho:)
Label:
Gado2
Jumat, 19 September 2008
Sedekah; Kerabat Dulu, Baru Orang Lain
Hari-hari Ramadhan berlalu begitu cepat. Perpindahan juz ke juz Al-Qur`an yang saya baca tidak dapat mengimbangi perpindahan hari-hari Ramadhan yang telah berlalu. Lumayanlah masih sempat membaca. Daripada tidak. Saya sih selalu mengedepankan kualitas daripada kuantitas bacaan. Ngeles? Boleh dibilang begitu. Tetapi, saya tidak mau sekadar membaca ayat-ayat Al-Qur`an, sedang saya tidak mengetahui arti dan maksudnya. Al-Qur`an untuk saya baca dan untuk saya pahami. Paham terhadap isi Al-Qur`an merupakan jalan menuju pengamalan terhadap firman Tuhan itu. Pendek kata, saya tidak mungkin dapat mengamalkan isi Al-Qur`an, jika saya tidak dapat memahaminya!
Saya tidak mau membaca Al-Qur`an sebagai ritual belaka! Membaca Al-Qur`an bisa memperoleh pahala, itu pasti. Tetapi, jika kita dapat membaca dan memahami, apalagi mengamalkannya, tentu pahala yang kita dapatkan lebih afdhal!
Ketika bulan Ramadhan tahun ini memasuki sepuluh hari pertama, saya membaca suatu ayat yang merupakan bagian surah kedua di dalam Al-Qur`an. Membaca ayat itu, membuat saya memutuskan untuk tidak meneruskan bacaan saya ke ayat berikutnya. Saya memutuskan untuk menutup bacaan saya pada hari itu di ayat ke-177. Saya lebih memilih membuka sejumlah referensi yang saya baca, untuk menggali maksud yang sebenarnya dari ayat yang ke-177 surah al-Baqarah itu.
Menurut versi Depag, edisi 2002, terjemahan ayat ke-177 itu adalah sebagai berikut.
"Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan ke barat, tetapi kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang yang dalam perjalanan (musafir), peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya, yang melaksanakan salat dan menunaikan zakat, orang-orang yang menepati janji apabila berjanji, dan orang yang sabar dalam kemelaratan, penderitaan dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar, dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa." (al-Baqarah [2]: 177)
Dalam ayat di atas, maksud yang belum saya pamahi dengan benar adalah penjelasan tentang pemberian harta yang disenangi oleh seseorang kepada (1) kerabat, (2) anak yatim, (3) orang-orang miskin, (4) orang-orang yang dalam perjalanan (musafir), (5) peminta-minta, dan (6) untuk memerdekakan hamba sahaya.
Selama ini, pertanyaan yang sering menghinggapi saya adalah apakah dalam memberikan (baca: menyedekahkan) harta yang kita senangi, kita boleh menentukan sendiri pihak yang akan menerima harta kita: (misalnya) boleh diberikan kepada orang-orang miksin, meskipun masih ada anak yatim atau kerabat yang fakir? ataukah kita memberikan harta sesuai dengan skala prioritas sesuai urutan penyebutan pihak penerima sedekah di dalam ayat di atas: (misalnya) sebaiknya kita tidak menyalurkan harta kita kepada anak yatim selama masih ada kerabat yang membutuhkan?
Dari sejumlah referensi, terutama kitab-kitab tafsir, yang saya baca terkait dengan ayat di atas, saya dapat mencatat dua hal yang patut kita perhatikan dalam mengeluarkan harta kita. Pertama, harta yang kita keluarkan adalah harta yang kita senangi. Penjelasan ini juga dikuatkan dengan firman Allah swt. di dalam surah Âli 'Imrân, ayat 92.
Kedua, kita memberikan harta kepada golongan yang disebutkan di dalam ayat tersebut sesuai dengan prioritas yang disebutkan di dalam ayat tersebut. Prioritas yang dimaksud adalah sesuai dengan urutan penyebutan golongan tersebut. Kerabat lebih prioritas daripada anak yatim. Anak yatim lebih prioritas dari pada orang-orang miskin. Orang-orang miskin lebih prioritas daripada musafir. Dan begitu seterusnya. Karena itu, jika kita hendak menyedahkan harta kita, sejatinya kita merangkingkan golongan yang berhak menerima sedekah yang disebutkan di dalam ayat tersebut sebagai berikut.
1. Kerabat (yang fakir).
2. Anak yatim (yang fakir).
3. Orang-orang miskin.
4. Musafir.
5. Peminta-minta.
6. (Biaya) untuk memerdekakan hamba sahaya.
Dalam menyalurkan harta, jika memang terbatas, sebaiknya diberikan kepada pihak penerima nomor satu terlebih dahulu, sebelum diberikan kepada pihak penerima nomor dua. Jangan dilongkap! Jika di antara kerabat kita masih ada yang membutuhkan bantuan finansial dari kita, kita harus lebih memerhatikan mereka. Mereka lebih berhak untuk mendapat perhatian dan menerima bantuan kita, daripada pihak penerima sedekah yang lain. Hal itu karena kita yang lebih bertanggung jawab untuk mengayomi kerabat dan atau keluarga kita daripada orang lain.
Kita berdosa dan akan dituntut di hari Kiamat kelak, jika kita mengurangi hak-hak atau kesejahteraan kerabat atau keluarga kita demi mengalokasikan harta untuk diberikan kepada anak-anak yatim, orang-orang miskin, dengan kedok hendak mengayomi. Mengayomi anak yatim itu baik, tetapi mengayomi dengan cara seperti itu tidak benar: baik belum tentu benar!
Di sisi lain, memberikan harta kepada kerabat memiliki keistimewaan daripada memberikan harta kepada selain kerabat. Rasulullah saw. menegaskan bahwa ketika seorang muslim memberikan sedekah kepada orang miskin, sedekah yang ia berikan hanya bernilai sedekah, tetapi jika ia memberikan sedekah kepada keluarga atau kerabatnya, selain ia mendapat pahala sedekah, ia juga mendapat pahala menyambung silaturahmi (shadaqatuka 'alal-miskîn shadaqatun, wa 'alâ dzawî rahimika shadaqatun wa shilatun). Begitu hadits riwayat Baihaqi.
Dalam konteks perusahaan, posisi karyawan dalam sebuah perusahaan, menurut hemat saya, sama dengan posisi kerabat. Ketika perusahaan memiliki alokasi dana untuk disedekahkan, seyogianya dana itu disalurkan kepada pihak-pihak yang berhak untuk menerima sesuai prioritasnya. Sebelum diberikan kepada anak yatim, orang-orang miskin, musafir, peminta-minta, harus dipastikan terlebih dahulu apakah para karyawan dari perusahaan tersebut sudah tidak ada yang membutuhkan bantuan untuk menutupi kebutuhan primernya?
Mengukur karyawan yang membutuhkan bantuan atau tidak, salah satunya, dapat dilakukan dengan memerhatikan gajinya. Sudahkah gaji yang ia terima mengantarkannya pada level kehidupan nyaman, ataukah gaji yang ia terima tidak dapat membuatnya keluar dari level mencari aman, atau bahkan mencari selamat.
Hemat saya, sebuah perusahaan sudah layak menyalurkan sedekahnya kepada nonkaryawan, seperti anak yatim dan orang-orang miskin, jika para karyawannya sudah berada di level nyaman, lebih-lebih jika sudah berada di level senang dan bahagia.
Jika kita menggarisbawahi hadits riwayat Baihaqi di atas, dapat kita analogikan bahwa jika perusahaan memberikan sedekah kepada nonkaryawan, perusahaan hanya akan mendapatkan pahala sedekah. Akan tetapi, jika perusahaan menyalurkan sedekahnya kepada karyawan, perusahaan akan mendapatkan dua pahala sekaligus, yakni pahala bersedekah dan pahala menjalin tali silaturahmi. Menjalin tali silaturami dapat diartikan, antara lain, dapat menumbuhkan sense of belonging dan loyalitas karyawan terhadap perusahaan.
Semoga kita dihindarkan dari perilaku menyalurkan sedekah hanya demi mencari prestise, sementara orang-orang yang sebenarnya lebih berhak untuk menerima sedekah kita masih meraung-raung kelaparan. Amin.
Wallâhu waliyyut-taufîq.
(Oretan ringan ini sebagai pengantar diskusi mingguan di Divisi Produksi, Penerbit Pena, pada tanggal 20 September 2008)
Saya tidak mau membaca Al-Qur`an sebagai ritual belaka! Membaca Al-Qur`an bisa memperoleh pahala, itu pasti. Tetapi, jika kita dapat membaca dan memahami, apalagi mengamalkannya, tentu pahala yang kita dapatkan lebih afdhal!
Ketika bulan Ramadhan tahun ini memasuki sepuluh hari pertama, saya membaca suatu ayat yang merupakan bagian surah kedua di dalam Al-Qur`an. Membaca ayat itu, membuat saya memutuskan untuk tidak meneruskan bacaan saya ke ayat berikutnya. Saya memutuskan untuk menutup bacaan saya pada hari itu di ayat ke-177. Saya lebih memilih membuka sejumlah referensi yang saya baca, untuk menggali maksud yang sebenarnya dari ayat yang ke-177 surah al-Baqarah itu.
Menurut versi Depag, edisi 2002, terjemahan ayat ke-177 itu adalah sebagai berikut.
"Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan ke barat, tetapi kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang yang dalam perjalanan (musafir), peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya, yang melaksanakan salat dan menunaikan zakat, orang-orang yang menepati janji apabila berjanji, dan orang yang sabar dalam kemelaratan, penderitaan dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar, dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa." (al-Baqarah [2]: 177)
Dalam ayat di atas, maksud yang belum saya pamahi dengan benar adalah penjelasan tentang pemberian harta yang disenangi oleh seseorang kepada (1) kerabat, (2) anak yatim, (3) orang-orang miskin, (4) orang-orang yang dalam perjalanan (musafir), (5) peminta-minta, dan (6) untuk memerdekakan hamba sahaya.
Selama ini, pertanyaan yang sering menghinggapi saya adalah apakah dalam memberikan (baca: menyedekahkan) harta yang kita senangi, kita boleh menentukan sendiri pihak yang akan menerima harta kita: (misalnya) boleh diberikan kepada orang-orang miksin, meskipun masih ada anak yatim atau kerabat yang fakir? ataukah kita memberikan harta sesuai dengan skala prioritas sesuai urutan penyebutan pihak penerima sedekah di dalam ayat di atas: (misalnya) sebaiknya kita tidak menyalurkan harta kita kepada anak yatim selama masih ada kerabat yang membutuhkan?
Dari sejumlah referensi, terutama kitab-kitab tafsir, yang saya baca terkait dengan ayat di atas, saya dapat mencatat dua hal yang patut kita perhatikan dalam mengeluarkan harta kita. Pertama, harta yang kita keluarkan adalah harta yang kita senangi. Penjelasan ini juga dikuatkan dengan firman Allah swt. di dalam surah Âli 'Imrân, ayat 92.
Kedua, kita memberikan harta kepada golongan yang disebutkan di dalam ayat tersebut sesuai dengan prioritas yang disebutkan di dalam ayat tersebut. Prioritas yang dimaksud adalah sesuai dengan urutan penyebutan golongan tersebut. Kerabat lebih prioritas daripada anak yatim. Anak yatim lebih prioritas dari pada orang-orang miskin. Orang-orang miskin lebih prioritas daripada musafir. Dan begitu seterusnya. Karena itu, jika kita hendak menyedahkan harta kita, sejatinya kita merangkingkan golongan yang berhak menerima sedekah yang disebutkan di dalam ayat tersebut sebagai berikut.
1. Kerabat (yang fakir).
2. Anak yatim (yang fakir).
3. Orang-orang miskin.
4. Musafir.
5. Peminta-minta.
6. (Biaya) untuk memerdekakan hamba sahaya.
Dalam menyalurkan harta, jika memang terbatas, sebaiknya diberikan kepada pihak penerima nomor satu terlebih dahulu, sebelum diberikan kepada pihak penerima nomor dua. Jangan dilongkap! Jika di antara kerabat kita masih ada yang membutuhkan bantuan finansial dari kita, kita harus lebih memerhatikan mereka. Mereka lebih berhak untuk mendapat perhatian dan menerima bantuan kita, daripada pihak penerima sedekah yang lain. Hal itu karena kita yang lebih bertanggung jawab untuk mengayomi kerabat dan atau keluarga kita daripada orang lain.
Kita berdosa dan akan dituntut di hari Kiamat kelak, jika kita mengurangi hak-hak atau kesejahteraan kerabat atau keluarga kita demi mengalokasikan harta untuk diberikan kepada anak-anak yatim, orang-orang miskin, dengan kedok hendak mengayomi. Mengayomi anak yatim itu baik, tetapi mengayomi dengan cara seperti itu tidak benar: baik belum tentu benar!
Di sisi lain, memberikan harta kepada kerabat memiliki keistimewaan daripada memberikan harta kepada selain kerabat. Rasulullah saw. menegaskan bahwa ketika seorang muslim memberikan sedekah kepada orang miskin, sedekah yang ia berikan hanya bernilai sedekah, tetapi jika ia memberikan sedekah kepada keluarga atau kerabatnya, selain ia mendapat pahala sedekah, ia juga mendapat pahala menyambung silaturahmi (shadaqatuka 'alal-miskîn shadaqatun, wa 'alâ dzawî rahimika shadaqatun wa shilatun). Begitu hadits riwayat Baihaqi.
Dalam konteks perusahaan, posisi karyawan dalam sebuah perusahaan, menurut hemat saya, sama dengan posisi kerabat. Ketika perusahaan memiliki alokasi dana untuk disedekahkan, seyogianya dana itu disalurkan kepada pihak-pihak yang berhak untuk menerima sesuai prioritasnya. Sebelum diberikan kepada anak yatim, orang-orang miskin, musafir, peminta-minta, harus dipastikan terlebih dahulu apakah para karyawan dari perusahaan tersebut sudah tidak ada yang membutuhkan bantuan untuk menutupi kebutuhan primernya?
Mengukur karyawan yang membutuhkan bantuan atau tidak, salah satunya, dapat dilakukan dengan memerhatikan gajinya. Sudahkah gaji yang ia terima mengantarkannya pada level kehidupan nyaman, ataukah gaji yang ia terima tidak dapat membuatnya keluar dari level mencari aman, atau bahkan mencari selamat.
Hemat saya, sebuah perusahaan sudah layak menyalurkan sedekahnya kepada nonkaryawan, seperti anak yatim dan orang-orang miskin, jika para karyawannya sudah berada di level nyaman, lebih-lebih jika sudah berada di level senang dan bahagia.
Jika kita menggarisbawahi hadits riwayat Baihaqi di atas, dapat kita analogikan bahwa jika perusahaan memberikan sedekah kepada nonkaryawan, perusahaan hanya akan mendapatkan pahala sedekah. Akan tetapi, jika perusahaan menyalurkan sedekahnya kepada karyawan, perusahaan akan mendapatkan dua pahala sekaligus, yakni pahala bersedekah dan pahala menjalin tali silaturahmi. Menjalin tali silaturami dapat diartikan, antara lain, dapat menumbuhkan sense of belonging dan loyalitas karyawan terhadap perusahaan.
Semoga kita dihindarkan dari perilaku menyalurkan sedekah hanya demi mencari prestise, sementara orang-orang yang sebenarnya lebih berhak untuk menerima sedekah kita masih meraung-raung kelaparan. Amin.
Wallâhu waliyyut-taufîq.
(Oretan ringan ini sebagai pengantar diskusi mingguan di Divisi Produksi, Penerbit Pena, pada tanggal 20 September 2008)
Label:
Gado2
Langgan:
Entri (Atom)