Senin, 05 Juli 2010

Arah yang Berbeda

Ketika mulut mengatakan "arah barat", sementara tangan menunjuk ke "arah timur" maka yang menjadi acuan adalah arah yg ditunjukkan tangan, bukan arah yang diucapkan oleh mulut :-)


Ungkapan ini pernah saya tulis dalam status fesbukku pada Sabtu (3/7/2010) kemarin. Saya tiba-tiba saja ingin menulisnya. Ungkapan itu boleh jadi menggambarkan seseorang yang panik sehingga keinginan mulut mengatakan arah barat diterjemahkan berbeda oleh tangan.

Tetapi, bukan itu yang saya maksudkan, tapi lebih dari itu. Sebagus apa pun retorika seseorang, semanis apa pun janji seseorang menjadi tidak berarti jika tidak dibuktikan dengan tindakan. Ucapan yang baik dan janji yang manis hanya akan menjadi bumerang jika tidak dibuktikan dengan perilaku atau tindakan. Sebab, pada akhirnya, orang lain itu akan menilai diri kita melalui perilaku kita, bukan melalui ucapan kita semata.

Karena itu, seyogianya kita berpikir seribu kali sebelum keinginan kita terucap menjadi sebuah janji. Mampukah kita mewujudkan janji itu dalam bentuk tindakan. Jika kita sudah yakin akan mampu untuk mewujudkannya, tanyakan sekali lagi. Lalu tanyakan sekali lagi. Jika kita yakin, baru kita menyampaikan janji itu. Itu pun disertai penjelasan dasar keyakinan kita mengapa berani berjanji. Penjelasan dasar keyakinan tersebut penting untuk disampaikan sebagai langkah preventif jangan-jangan janji yang kita ucapkan, yang telah kita yakini akan terwujud, tidak bisa diaplikasikan. Sehingga orang yang menerima janji tidak kecewa-kecewa amat.

Jangan sesekali berjanji kepada orang lain, jika kita sendiri ragu untuk dapat melakukan janji tersebut. Anda boleh menilai diri Anda berdasarkan pikiran dan rencana Anda, tetapi orang lain menilai diri Anda berdasar apa yang Anda lakukan.

Setelah kita mengucapkan janji dengan mantap, tetapi kita tidak mampu untuk melakukannya, karena alasan apa pun, kita bisa saja "ngeles" dan membuat alasan yang bermacam-macam. Sekali-dua kali kita tidak dapat menepati janji, mungkin orang yang menerima janji kita bisa memaklumi. Tetapi, jika itu dilakukan berulang-ulang, kita akan dicap sebagai orang yang hanya pinter ngomong aja, tapi gak pernah teralisasi. Pada gilirannya, siap-siaplah kita mendengar orang nyolot ketika kita berbicara, "Omdo!" [Omong doang!]

Di dunia, kita masih berkesempatan untuk berapologi atas setiap janji yang tidak bisa kita tepati, atas setiap kebohongan yang telah kita lakukan. Karena tidak ada satu orang pun yang dapat mendengar detak jantung kita, dan tidak ada seorang pun yang mampu membaca pikiran kita. Akan tetapi, di akhirat kelak, kesempatan itu tidak akan ada. Mulut kita dikunci. Hanya tanganlah yang bisa berbicara. Sedang kaki menjadi saksi atas seluruh perbuatan kita!

So, jika tangan kita hanya mampu menunjuk arah barat, mulut tak usah mengucap arah timur!

Kamis, 21 Januari 2010

Usia

Usia merupakan bagian dari rahasia Tuhan. Sama dengan jodoh dan rezeki. Ketiganya sudah ditakar oleh Tuhan. Tidak ada seorang hamba pun di muka bumi ini yang dapat mengetahui dan mengubahnya. Usia seseorang sudah ditentukan dalam ketetapan-Nya. Belum ada, dan tak akan pernah ada, seseorang yang kuasa mengubah, apalagi menolak, ketika usia seseorang sudah mencapai titik finish. Mempercepat atau memperlambatnya. Sedetik pun.

Sebagai sebuah rahasia, seorang hamba tidak dapat mengetahui berapa jatah usianya untuk mampir di dunia fana yang sebentar ini. Kita tidak pernah tahu, kapan Malaikat Maut akan bertamu, meski tidak kita undang, untuk mencabut nyawa kita. Bisa tahun depan, bulan depan, minggu depan, besok, malam nanti, hari ini, atau sebentar lagi.

Memiliki obsesi yang tinggi dan kecintaan terhadap dunia sering membuat kita lupa bahwa maut itu bisa datang kapan saja. Tidak menunggu usia kita renta. Maut adalah sesuatu yang tidak pasti sekaligus pasti. Ya, tidak dapat dipastikan oleh manusia kapan maut itu kapan datang. Tetapi, maut dapat dipastikan datang menjemput manusia. Maut bisa datang dengan cara apa pun. Bisa didahului sakit, dan bisa tanpa sebab. Maut datang tiba-tiba, tanpa pamit.

Jika kita dapat mengetahui kapan usia seseorang akan berakhir, atau maut terlebih dahulu ketika ia hendak menjemput, tentu kita bersiap-siap terlebih dahulu untuk meninggalkan dunia ini. Menyelesaikan seluruh urusan duniawi, menambah bekal sebanyak-banyaknya untuk menghadapi kehidupan abadi, serta memohon ampun dari lumuran dosa.

Sayangnya, kapan usia kita berakhir tidak pernah diketahui, dan maut pun tak pernah pamit. Maut bisa saja menjemput kita pada saat beribadah, dan bisa saja ruh kita berpisah dengan jasad kita pada saat kita melakukan maksiat.

Kita tidak memiliki opsi dalam menghadapi usia. Opsi satu-satunya yang kita miliki hanya mempersiapkan diri untuk dipanggil menghadap-Nya, dengan bekal kebaikan sebanyak mungkin.

Sabtu, 03 Januari 2009

Gombal itu Halal Lagi..

Gombal adalah ucapan yang tidak benar; tidak sesuai kenyataan; omong kosong. Gombal sering digunakan dalam konteks pujian. Orang yang sedang memuji pasangannya, tak jarang disebut gombal. Dalam banyak cerita, film, bahkan di sekeliling kita, kita mungkin sering mendengar ucapan seseorang, "Ah, kamu gombal," sebagai respons terhadap orang yang memujinya meskipun sebenarnya telinga orang yang mendengar pujian itu sedang memekar karena dipupuk dengan pujian. Bisa jadi, pujian itu tidak berlebihan, tetapi dianggap berlebihan. Meskipun tidak menutup kemungkinan, pujiannya itu memang hiperbola. Apalagi orang yang mengucapkannya agak lebai:)

Gombal yang notabene sebagai pujian, meskipun, konten dari gombal itu tidak sesuai kenyataan, ternyata diperbolehkan dalam agama. Gombal ataupun berbohong kepada pasangan, istri atau suami (dengan syarat dan ketentuan berlaku tentunya) tidak membuahkan dosa. Hal itu, mungkin, agama ingin mendorong seseorang untuk senantiasa membahagiakan pasangannya. Karena tidak selamanya berkata jujur itu membawa kemasalahatan. Ada kalanya seseorang perlu berbohong jika ternyata dengan berkata jujur hanya akan melahirkan konflik rumah tangga. Bolehlah seorang istri berkata bohong kepada suaminya yang baru saja menyajikan nasi goreng yang keasinan, dengan berkata, "Ga kok, ga keasinan. Enak kok."

Di samping agama memperbolehkan (1) seseorang untuk berbohong kepada pasangannya, istri atau suami, dengan tujuan membahagiakannya, agama juga memperbolehkan (2) seseorang berbohong pada saat peperangan, dan (3) berbohong untuk mendamaikan orang yang sedang bertikai.

Ibnu Syihab meriwayatkan, “Aku belum pernah mendengar Rasulullah memberikan dispensasi (keringanan) tentang suatu kebohongan yang diucapkan seseorang kecuali dalam tiga hal, yaitu peperangan, mendamaikan orang-orang yang berselisih, dan ucapan suami kepada istrinya atau ucapan istri kepada suaminya." (HR Muslim)

So, berbohonglah jika hal itu diperlukan dan dapat membawa kemasalahatan, selama berada dalam koridornya. ^-^

Selasa, 23 Desember 2008

Sekolah dan Kehidupan

Sekolah dalam definisi sederhana, antara lain, dapat disebut sebuah lembaga atau tempat belajar dan mengajar serta tempat menerima dan memberi pelajaran. Di sekolah seseorang dapat menimba ilmu dengan segala jurusannya: jurusan dagang, teknik, guru, pertanian, agama, dst. Di sekolah formal, setelah seseorang mendapat pelajaran, ia akan mengikuti ujian. Hasil ujian itulah yang menentukan apakah dia pantas lulus atau tidak. Nilai dari ujian itulah yang menetapkan dia pantas naik kelas atau tidak. Singkatnya, di sekolah seseorang mendapat pelajaran --> mengikuti ujian -->lulus/gagal. Di sekolah, kesempatan seseorang untuk lulus lebih dari 90%, karena materi untuk menjawab soal-soal ujian sudah diberikan terlebih dahulu pada saat seseorang belajar. Jika dia belajar dengan sungguh-sungguh dan menguasai seluruh pelajaran yang diberikan oleh pengajar, sebagian besar--atau bahkan semua--soal akan dapat dilahapdengan tuntas, sehingga lulus atau naik kelas dengan nilai yang membanggakan bukanlah sesuatu yang mustahil untuk dicapai.

Sementara di dalam konteks kehidupan, untuk mencapai kesuksesan atau kemenangan, seseorang akan mengalami tahapan yang berbeda dengan tahapan yang dilalui di sekolah. Di dalam kehidupan, tahapan pertama yang dilalui seseorang adalah mendapat ujian. Ujian--atau dalam bahasa agama juga disebut dengan cobaan--yang diterima seseorang di dalam hidupnya bisa berupa sandungan, tantangan, atau kegagalan demi kegagalan. Seseorang yang dapat melalui ujian dengan baik, ia akan dapat melalui pelajaran: yaitu mengambil pelajaran dari ujian yang telah ia alami. Mengambil pelajaran dari ujian demi ujian yang dia hadapi, dapat menjadi modal besar bagi dia untuk meraih sebuh kesuksesan, karena setidaknya dia tidak akan mengulangi kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan sebelumnya, atau bahkan dia sudah dapat memprediksi dan mengantisipasi kesalahan-kesalahan yang dimungkinkan terjadi. Peluang besar untuk sukses hanya dimiliki oleh orang-orang yang dapat belajar dari ujian yang dia hadapi dalam kehidupannya. Sebab orang yang mau mengambil pelajaran dari kesalahan-kesalahan yang dilakukan dalam hidupnya, tidak akan mudah menyerah pada kehidupan.

Oleh karena itu, Eka Rasa Defaira, Direktur P.T. Pena Pundi Aksara, mengungkapkan dalam sebuah momen bahwa kemenangan menjadi sangat berharga dalam hidup bukan karena seseorang tidak pernah gagal, melainkan bagaimana dia dapat bangkit, bergerak, dan berjuang setiap kali menemui kegagalan.

So, meraih kesuksesan di dalam kehidupan tidak semudah meraih kesuksesan di bangku sekolah. Karena di bangku sekolah, seseorang sudah dicekoki seluruh materi yang kelak menjadi jawaban atas seluruh soal yang akan diberikan di dalam ujian. Sedangkan dalam kehidupan, seseorang harus mencari sendiri pelajaran atau jawaban atas ujian yang dia hadapi.

Kerapkali realitas kehidupan yang dihadapi seseorang tidak sesuai dengan keinginan yang terpatri di hatinya. Tak ubahnya, seperti angin yang sering berembus ke arah yang tidak diinginkan oleh kapal yang hendak berlayar. Itulah pesan seorang pujangga Arab mengingatkan kita tentang realitas kehidupan ini. Mâ kullu mâ yatamannal-mar`u yudrikuhu, ta`tir-rîhu bi-mâ lâ tasytahi as-sufun.

Selamat belajar atas setiap ujian yang dihadiahkan kepada kita, untuk menjadi bekal kita meraih sebuah kesuksesan yang kita impikan.

Rabu, 10 Desember 2008

Korupsi Gak Sengaja

Kemarin (9/12) merupakan Hari Antikorupsi Sedunia. Saya sendiri belum pernah memiliki kasus dengan yang bernama korupsi. Setidaknya saya belum pernah terbukti melakukan korupsi. Pikir singkat saya, bagaimana saya bisa melakukan korupsi, wong kesempatan untuk berkorupsi tidak ada, kukakaka. Itu kalau dikaitkan dengan korupsi dalam skala besar, seperti mengoruspi uang miliyaran seperti banyak diberitakan di media massa, yang biasa dilakukan oleh orang-orang berdasi dan bergaji--sebut saja--puluhan atau ratusan juta.
Korupsi--yang dalam definisi sederhananya sebagai tindakan penyelewengan atau penyalahgunaan uang (dan sejenisnya) milik perusahaan (dsb) untuk keuntungan pribadi atau orang lain--tidak hanya berlaku dalam ranah partai besar, atau dalam konteks uang dan harta kekayaan saja.

Jika ditilik dari definisinya, korupsi yang berarti penyelewengan atau penyalahgunaan bisa juga berlaku dalam ranah waktu. Korupsi waktu berarti penyalahgunaan waktu. Dengan begitu, penggunaan waktu dinas (bekerja) untuk urusan pribadi dapat disebut tindakan korupsi.

Meskipun tindakan korupsi waktu tidak dapat menyeret pelakunya ke LP, pengadilan, dan sejenisnya, tindakan tersebut tetap masuk dalam kategori tindakan yang dapat merugikan perusahaan dan orang lain. Pastinya, ia merupakan tindakan yang tidak terpuji.

Dalam konteks mengorupsi waktu, seseorang--sebut saja seseorang itu adalah saya heheh --bisa saja tidak sadar bahwa dia telah melakukan tindak korupsi yang membawa dirinya telah melakukan tindakan dosa dan selanjutnya mengonsumsi harta yang tidak halal yang kelak menjadi darah-dagingnya.
Saya mencoba mengilustrasikan pengorupsian waktu dalam konteks perusahaan dengan mengalkulasikan gaji (dan sejenisnya) yang diberikan oleh perusahaan dan waktu (baca: jam kerja) yang harus dibayarkan oleh seorang karyawan kepada perusahaan. Sebut saja gaji yang diberikan oleh Perusahaan adalah Rp2.000.000 untuk jam kerja 8 jam. Agar tidak terjadi tindakan korupsi (dalam hal ini waktu), seorang karyawan harus bekerja untuk perusahaan selama 8 jam. Jika selama rentang waktu 8 jam, seorang karyawan melakukan hal-hal yang menguntungkan pribadi atau orang lain (bukan perusahaan), disadari atau tidak ia telah melakukan tindakan korupsi, karena ia telah melakukan penyalahgunaan waktu. Sesebentar apa pun, misalnya hanya satu menit, dia melakukan penyelewenangan waktu, ia telah melakukan tindakan korupsi.

Seorang yang melakukan korupsi satu menit saja selama satu hari kerja (8 jam) atau selama satu bulan kerja, ia telah merusak kualitas (kehalalalan) jam kerja yang lain selama satu bulan itu.
Jika ia telah melakukan korupsi waktu selama satu menit, berarti bayaran yang ia terima untuk satu menit menit tersebut sudah berubah dari halal menjadi haram. Agama tidak menolerir kuantitas perbuatan haram, sedikit atau banyak sama-sama haram (qalîluhu wa katsîruhu harâm). Sebut saja bayaran yang dia terima untuk satu menit sebesar 208 perak (hasil pembagian Rp2.000.000 yang dia terima selama satu bulan kerja. Misalnya, Rp2.000.000 [dibagi] 20 hari kerja [dibagi] 8 jam [dibagi] 60 menit = 208 perak).

Agama juga menyebutkan, jika uang haram bercampur dengan uang halal maka seluruhnya akan menjadi haram (idzâ ijtama'a al-halâlu wal-harâm gullibal-harâmu). Jika seorang karyawan menerima gaji Rp2.000.000 selama satu bulan, dengan komposisi uang haram sebesar 208 (karena telah mengorupsi waktu kerja selama satu menit) dan uang halal sebesar Rp1.999.792, maka uang yang 1.999.792 juga ikut haram karena bercampur dengan uang haram. Dengan begitu, gaji yang ia terima sebesar Rp2.000.000 adalah gaji haram. Na'ûdzubillah min tilka.

Jumat, 21 November 2008

Jejak Langkah Menuju Keberhasilan

Banyak jalan untuk meraih keberhasilan. Setiap orang memiliki caranya sendiri untuk meraih keberhasilan yang diimpikannya. Bisa jadi, setiap orang memiliki cara yang berbeda dengan cara yang digunakan oleh orang lain. Bahkan, tidak menutup kemungkinan, seseorang sudah menggunakan banyak cara sebelum menemukan cara yang tepat untuk meraih keberhasilan. Bisa dengan belajar dari kesalahan-kesalahan (pengalaman) sendiri atau belajar dari pengalaman orang lain yang telah suskes menggenggam keberhasilan. Setidaknya, menjadikan pengalaman orang lain itu sebagai bekal untuk menguak jalan menuju keberhasilan. Sebab, ada sebuah pameo mengungkapkan: experience is the best teacher 'pengalaman adalah guru yang terbaik'.

Salah satu cara untuk meraih keberhasilan adalah cara yang digunakan oleh Pak Ardy, seorang profesional yang telah bergelut di dunia bisnis selama 20 tahun. Menurut Pak Ardy, untuk dapat meraih keberhasilan ada beberapa langkah yang harus ditempuh. Berikut ini beberapa pointer yang sempat saya catat dari materi yang disampaikan oleh Pak Ardy pada acara "berbagi pengalaman" dengan teman-teman Tim Produksi Pena, pada Rabu, 19/11 kemarin (Kalo salah dikoreksi ya Pak Ardy, he3.)

Pertama, harus memiliki modal.
Orang yang ingin meraih kesuksesan, harus memiliki empat (4) modal berikut ini.
1. Paradigma.
2. Pola pikir (positif).
3. Motivasi.
4. Orientasi kerja.

Kedua, menyadari sesuatu yang tidak terelakkan. Seorang yang bergelut di dunia bisnis, harus menyadari dua hal yang tidak dapat ditawar sehingga kita harus dapat menyikapinya dengan baik dan benar. Dua hal yang tidak terlakkan itu:
(1) Waktu. Waktu merupakan sesuatu yang tidak dapat ditawar. Ia akan terus bergulir, dan kita—sebagai manusia—tidak dapat menghentikan lajunya. Kita harus dapat "mengendalikan" waktu dengan baik. Sebuah pepatah Arab mengatakan, al-waqtu kassaifi, in lam taqtha`hu, qatha'aka 'waktu bagaikan pedang, jika kamu tidak menebasnya, ia akan menebasmu'. Seseorang yang ingin sukses harus benar-benar dapat mengelola waktu dengan baik karena seseorang memiliki batas usia dan tingkat produktivitas.
(2). Persaingan. Semakin hari semakin banyak lulusan luar negeri yang setiap saat dapat menggeser eksistensi kita jika kita tidak dapat menyesuaikan dengan perkembangan dan tuntutan zaman. Di samping itu, peluang seamakin luas. Karena itu, untuk menghadapi persaingan ini dengan sehat, kita harus agresif dan berkoneksi.

Ketiga, membuka mata atas fakta yang terlihat saat ini.
Fakta yang terlihat sekarang adalah hal penting yang tidak dapat diabaikan salah satunya. Bahkan, jika salah satu dari kedua hal penting itu gagal, besar kemungkinan akan mengancam salah satu hal penting yang lain. Dua hal penting itu adalah (1) tuntutan pekerjaan dan (2) tuntutan hidup.

Dalam menghadapi tuntutan pekerjaan, kita harus bekerja dengan efektif, memiliki multi skill, inovatif, inisiatif, dan selalu mengaupdate teknologi.

Sementara dalam menghadapi tuntutan hidup, kita harus menyadari bahwa biaya hidup tinggi dan serba penting. Tapi, tidak hanya cukup disadari, tapi juga harus diantisipasi:)


Keempat, memiliki paradigma yang benar, memiliki rencana yang tepat, menetukan pengetahuan dan ilmu yang harus dikuasai, dan mengetahui cara bertahan.

Paradgima yang benar dalam konteks pekerjaan adalah harus membedakan antara profesi dan pekerja sehingga kita dapat menentukan dan memilih kita mau menjadi profesional ataukah menjadi pekerja saja. Karena terdapat perbedaan yang mencolok antara profesional dan pekerja. Pekerja itu (1) fokus pada kegiatan, (2) pasrah/menolak perubahan, (3) berorientasi pada waktu dan upah, (4) mengikuti apa yang sudah ditetapkan, (5) berorientasi pada jangka pendek, dan (6) ada batas masa berlakunya.
Sementara profesional, (1) fokus pada keahlian, (2) mengantisipasi perubahan, (3) berorientasi pada hasil, (4) mengasah kreativitas, (5) berorientasi pada jangka panjang, dan (6) selalu dicari dan dibutuhkan.

Setelah memiliki paradigma yang benar, kita harus memiliki rencana yang tepat, yaitu dengan cara menentukan langkah berikut ini.
1. Membuat dan memiliki visi pribadi. Visi pribadi yang kita buat harus konkret dan solid, yang bisa dibuat dengan cara menyendiri sambil merenung, mendengarkan suara hati, menggunakan alat bantu yang bisa menimbulkan inspirasi, dan berdoa.
2. Membuat target. Target yang kita susun harus diterjemahkan ke dalam kegiatan nyata, yakni dengan cara melakukan tindakan nyata, lalu mengevaluasi kemajuan yang telah kita lakukan.
3. Mengelola waktu dengan baik. Ingat: al-waktu kassaifi, in lam taqtha`hu, qatha'aka 'waktu bagaikan pedang, jika kamu tidak menebasnya, ia akan menebasmu'.

Jika kita sudah memiliki rencana yang tepat, kita harus mempelajari ilmu dan pengetahuan berikut ini.
1. Tingkatkan keahlian teknis dan nonteknis.
2. Keahlian memimpin.
3. Keahlian berkomunikasi.
4. Keahlian mengambil keputusan dan membuat kebijakan yang benar.
5. Keahlian berinteraksi dengan orang lain.

Ketika kita sudah menguasai pengetahuan yang harus kita miliki, kita harus menguasai cara bertahan. Pertahanan yang kukuh dapat dilakukan dengan menguasai hal berikut ini.
1. Berpikir positif.
2. Mengubah kegagalan menjadi batu loncatan untuk berhasil.
3. Mengatasi stres.
4. Mengambil risiko.

Teori tidak akan berarti apa-apa jika kita tidak mewujudkannya dalam bentuk aksi. Mari kita melangkah mulai dari sekarang sambil mengingat pesan Pak Ardy: "Setiap orang yang memiliki sudut pandang, motivasi, dan cara yang positif akan lebih mudah dan ringan dalam menghadapi kehidupan." Bismillah!

Rabu, 19 November 2008

Give and Take

Ternyata, sudah banyak perkembangan pesat di lingkungan sekitar yang tidak mampu saya ikuti. Salah satunya, perubahan prinsip take and give ke prinsip give and take. Perubahan ini, bukan hanya sebatas pemindahan kata yang semula disebut terakhir (give) kemudian disebut pertama kali, menjadi give and take. Prinsip take and give cenderung membuat seseorang pasif dan menyesuaikan dengan lingkungan. Ia akan memberikan sesuatu sesuai dengan kadar yang telah ia terima dari lingkungannya. Tidak lebih. Disebut pasif, karena apa yang ia lakukan merupakan reaksi dari aksi yang dilakukan oleh orang lain.

Sementara prinsip give and take merupakan tindakan aktif yang berupaya memberi sesuatu kepada lingkungan tanpa memikirkan balasan yang akan diberikan oleh lingkungan. Meskipun mengharapkan balasan, setidaknya prinsip ini telah menggugah seseorang untuk memberi (apa pun), jika ia ingin menerima sesuatu yang setimpal. Pemberian yang diberikan berdasarkan inisiatif, sering mendapat balasan yang lebih banyak dari yang seharusnya.

Memberi yang saya maksud adalah memberi dalam pengertian yang seluas-luasnya. Bukan sekadar memberi dalam bentuk materi. Tetapi, masih dalam koridor memberi yang positif. Setidaknya, tidak merugikan orang lain. Bisa kontribusi ide, pemikiran, kritik konstruktif, gagasan, tenaga, dan sebagainya.

Tanpa mendapat balasan pun, ketika memberi orang yang memberi akan mendapatkan banyak hal positif. Orang yang memberi itu: lebih gembira (ada kepuasan batin karena sudah dapat membantu orang lain. Apalagi kalau pemberian yang ia berikan memang sangat diharapkan oleh orang lain), lebih mulia (tangan yang di atas lebih mulia daripada tangan yang di bawah), lebih kuat, lebih semangat, lebih kreatif, lebih tawakal, lebih berani, lebih percaya diri, lebih berwawasan, berpengalaman, lebih ceria, lebih segar, lebih tenang, dan lebih sukses. lebih... lebih... dan lebih-lebih yang lainnya. Hanya poin-poin itu yang disampaikan oleh Pak Ardiansyah, salah seorang advisor PT Pena Pundi Aksara tempat saya memberi :) saat ini, dalam training untuk divisi produksi pada Selasa kemarin. Lebih-lebih yang lain pasti masih berserakan. Sebut saja, orang yang memberi akan lebih sayang dan lebih mendapat rasa sayang. Rasulullah saw. membenarkan dan menganjurkan lebih yang terakhir ini melalui sabda beliau,
Tahâdau, tahabbû 'saling memberilah, niscaya kalian semakin saling menyayangi'. (HR Baihaqi)

Yuks, kita mencari lebih-lebih yang lain :)